Ubur-Ubur Merebak di Pantai Selatan Yogyakarta, Sarlinmas Imbau Wisatawan Berhari-hati

Korban sengatan ubur-ubur biasanya cukup diobati dengan ramuan tradisional seperti cuka, alkohol, dan salep. “Maka stok cuka, alkohol atau balsem juga harus siap di posko Sarlinmas,” katanya ( foto/medcom.id)

Bantul– Hati-hati berwisata ke pantai selatan Daerah Istimewa Yogyakarta ( DIY) karena sejak dua hari lalu sepanjang pantai ini merebak ubur-ubur dan mengakibatkan ratusan orang menderita gatal-gatal perih disengat ubur-ubur.

Bahkan Humas Pemda DIY, melalui akun twitter menyatakan serangan ubur-ubur diprediksikan hingga akhir bulan Juli 2020 mendatang.

“ Berdasarkan informasi tim SAR, ribuan wisatawan pantai selatan wilayah DIY banyak yang tersengat ubur-ubur. Ubur-ubur ini diprediksi akan tetap berada di pantai selatan DIY hingga akhir Juli 2020. Kami mengimbau sedulur agar tak berwisata ke pantai sampai kondisi kembali kondusif,” demikian peringatan Humas Pemda DIY di akun twiiter-nya.

Berdasarkan keterangan Sarlinmas Wilayah III Parangtritis, Kabupaten Bantul, ubur-ubur kembali menyerang wisatawan Pantai Parangtritis, Kretek, Bantul. Sejak Sabtu (4/7) dan sedikitnya 200  orang menjadi korban sengatan binatang laut yang lucu tersebut.

Sekretaris Sarlinmas, Parangtritis, Rinto Rafli,  mengatakan serangan ubur-ubur itu sebenarnya sudah terjadi sejak akhir Mei dan awal Juni 2020 lalu. Namun, saat itu belum banyak korban karena kunjungan wisata juga rendah.

Seiring dengan dibukanya tempat wisata akibat pandemi corona covid-19 wisatawan luar daerah juga mulai meningkat. Akibatnya semakin banyak wisatawan yang menjadi korban sengatan ubur-ubur.

Wisatawan yang menjadi korban sengatan ubur-ubur kebanyakan anak-anak karena biasanya penasaran terhadap hewan laut yang satu ini dan berusaha menangkapnya.

“ Korban sengatan ubur-ubur bukan hanya anak-anak, orang dewasa juga. Tetapi sebagian besar anak-anak karena tergoda untuk memegang binatang laut yang memiliki bentuk menarik dengan gelembung, akar, dan warna kebiruannya itu,” katanya.

Korban sengatan ubur-ubur akan mengalami gatal-gatal, perut mulas, area punggung panas, hingga luka ringan kemerahan. Namun tidak sampai harus dirawat di rumah sakit atau mendapatkan perawatan khsusus, atau akibat fatal lainnya.

Biasanya setelah mendapat pertolongan dari anggota Sarlinmas, mereka kemudian akan membaik. Ia juga membenarkan bahwa  ancaman serangan ubur-ubur kemungkinan terjadi sampai akhir Juli atau bersamaan dengan musim dingin.

Maka pihaknya menghimbau agar wisatawan berhati-hati dan tidak perlu menangkap ubur-ubur. Oeang tua perlu juga memperingatkan ana-anaknya untuk menjauhi ubur-ubur, karena biasanya anak-anak tergoda untuk menangkap ubur-ubur.

Korban sengatan ubur-ubur biasanya cukup diobati dengan ramuan tradisional seperti cuka, alkohol, dan salep. “Maka stok cuka, alkohol atau balsem juga harus siap di posko Sarlinmas,” katanya. (gon/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *