Meski Berusia Muda Awit Dwiyanto ( 36) Memilih Profesi Sebagai Pewarang Keris, Kenapa ?

Keberadaan keris sendiri sekarang sudah mulai langka, karena selain banyak yang dijual kepada kolektor sebagian besar rusak karena tidak ditawat oleh tuannya. ( foto: ist)

Wonosobo– Menekuni jasa pewarangan keris ternyata bukan hanya pilihan kaum tua. Anak muda pun banyak tertarik membuka jasa pewarangan keris.

Awit Dwiyanto, warga Dusun Kleposari RT 09 RW 02, Desa Randusari, Kecamatan Kepil, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, ini misalnya.

Meski berusia muda, ia bertekad menekuni jasa pewarangan keris di rumahnya, terutama karena prihatin semakin langkanya pewarangan keris  karena masyarakat kekinian tidak lagi tertarik dengan benda pusaka peninggalan nenek moyang tersebut.

Selain langkanya jasa pwarangan keris, jumlah keris pusaka yang berada di tangan warga semakin berkurang jumlahnya karena lebih banyak yang dijual kepada kolektor karena menganggap keris sebagai benda tak berguna.

“Padahal kita paham, keris merupakan salah satu pusaka peninggalan nenek moyang dan menjadi bagian dari  kebudayaan Nusantara, khususnya dari pulau Jawa,” katanya menjelaskan.

Keberadaan keris sendiri sekarang sudah mulai langka, karena selain banyak yang dijual kepada kolektor sebagian besar rusak karena tidak ditawat oleh tuannya.

Hal inilah yang membuat Awit Dwiyanto atau yang lebih akrab di panggil Kang Awit ( 36  ) ini setahun memilih menekuni jasa pewarangan atau jasa memperbaiki benda pusaka kuno khususnya keris yang lama tidak terurus atau rusak akibat berkarat.

Di tangan terampilnya banyak keris yang dia perbaiki dan perlihatkan kembali keindahan pamornya  seperti keris Dhapur Jaran Goyang dari Kerajaan Mataram, Dhapur Jalak Ngore, Dhapur Tikam Upih,  Dhapur Sempana Panjul, Dhapur Putut kembar dan Umyang Jimpe, serta Dhapur Sengekelat.

Saat di jumpai di kediamannya pemuda  paruh baya ini berpesan kepada siapa saja yang masih memiliki pusaka peninggalan leluhur agar tetap dirawat dan menjaganya sebagai wujud rasa cinta kita terhadap kebudayaan peninggalan leluhur.

Ia juga menuturkan sebelum pandemi per minggu ia mampu mewarangi 2-4 bilah keris, setelah pandemi baru dapat 4 keris, dengan tarif antara Rp 50.000-Rp 80.000 per bilah keris. Harga yang dipatok tentu tergantung tingkat kesulitan pembuangan karatnya. ( red)

Liputan : Saeful Wahid / Thoha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *