Luqmanul Chakim Produser Musik Asal Wonosobo Sukses Membawa Musik Tradisional ke Dunia Anak Muda Millenial

 Rencananya, Bunyi Sembunyi juga akan didistribusikan lewat jaringan stasiun Radio di Indonesia. Berbagai karya Luqman juga bisa dilihat di akun instagramnya di @luq_music. (foto: ist)

Wonosobo – Luqmanul Chakim, seorang produser musik asal kabupaten Wonosobo ingin membawa musik tradisional ke dunia anak-anak muda, dengan kemasan millenial.

Ide ini dimulai dari petualangan Luqman sebagai etnomusikolog yang menjelajah berbagai daerah untuk mendokumentasikan, meneliti, dan menyusun karya-karya baru.

Salah satu karyanya merekam pengalaman yang layak dibagikan lewat sebuah komposisi bertajuk ‘Bunyi Sembunyi’  dirilis resmi di semua platform digital pada Sabtu (13/6/2020).

“Lagu Bunyi Sembunyi ini adalah sebuah ekspresi kekhawatiran atas tren saat ini. Bahwa musik tradisional sepertinya mulai dilupakan oleh generasi sekarang. Project ini juga mengajak siapapun untuk berani berinovasi dan membuat karya yang berakar dari lingkungan sekitarnya,” kata Luqman.

Bunyi Sembunyi terlahir dari program mentoring yang diinisiasikan HP Inc. Indonesia untuk anak muda yang beraspirasi menjadi content creator, HP Mentorship Project. Di mana para finalis terpilih akan dimentori secara langsung oleh para praktisi yang ahli di bidangnya, seperti Joko Anwar untuk kategori Film dan Eka Gustiwana untuk kategori musik.

Dari kedua kategori tersebut, Luqman berhasil keluar sebagai pemenang kategori musik serta mendapatkan kesempatan untuk merealisasikan project-nya bersama sang mentor, Eka Gustiwana.

Sang produser lagu Lathi yang kini karyanya tengah naik daun tersebut, membimbing Luqman mulai dari ide awal, proses produksi musik, komposisi, hingga finishing lagunya. Bagi Luqman, Eka Gustiwana tidak hanya seorang Mentor, namun juga teladan dan inspirator yang mempunyai visi mulia dalam mengangkat musik tradisional hingga dikenal warga dunia.

Bunyi Sembunyi juga dikatakan Luqman terinspirasi dari keberadaan alat musik tradisional yang semakin berkurang pemainnya maupun pendengarnya. Contohnya  ketika observasi kesenian Jemblung di Banyumas, yang juga masuk dalam Bunyi Sembunyi, Luqman sempat kesulitan mencari kelompok yang masih eksis.

Sekalipun ketemu, para personilnya sudah lanjut usia.

“Bagi saya, semua musik tradisional mempunyai keunikan, seperti Jemblung yang hampir mirip Kecak, dimana Gamelan atau Calung dimainkan menggunakan mulut. Bagi saya ini seperti Beat Box yang meniru berbagai alat musik dengan suara mulut, jangan sampai ini punah,” kata Luqman yang juga mengangkat alat musik Bundengan dan Bindeng dari Kabupaten Wonosobo.

Dua musisi muda asal kabupaten Wonosobo yaitu Ega Puspa Aya dan Arba Velhan juga dilibatkan sebagai vokalis dalam Bunyi Sembunyi. Lagu ini sudah bisa di dengarkan termasuk Youtube, Spotify, Joox, dan berbagai platform online lainnya.

Rencananya, Bunyi Sembunyi juga akan didistribusikan lewat jaringan stasiun Radio di Indonesia. Berbagai karya Luqman juga bisa dilihat di akun instagramnya di @luq_music. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *